karena pidatonya yang sangat berpengaruh terhadap pemuda surabaya untuk melawan penjajah pada waktu itu. Berkat pidato tersebut, arek-arek suroboyo menjadi bersemangat menentang penjajah, dan akhirnya pada tahun 1945 indonesia merdeka. hahh..cerita tentang bung tomo saya udah kan, saya lanjut cerita yang saya maksud diatas.
Kyai Abbas bin Abdul Jamil
Dibalik peristiwa dahsyat 10 november 1945 yang kemudian dikenal sebagai
"Hari Pahlawan" itu, sejarah mencatat nama seorang tokoh nama ulama
dari kota Cirebon yangs aat itu kedatangannya dikota Surabaya amat
dinantikan. Bahkan, saat Bung Tomo datang berkonsultasi kepada K.H
Hasyim Asy'ari guna meminta restu dimulainya perlawanan terhadap tentara
sekutu, Kyai Hasyim menyarankan agar perlawanan baru akan dimulai saat
ulama dari Cirebon sudah datang. Ulama yang dimaksud adalah K.H Abbas,
pengasuh pesantren Buntet, Cirebon.
Beliau adalah Kyai Abbas bin Abdul Jamil, lahir ju'mat 24 dzhullhijah
1300H (Tahun1879M), di Pekalangan , Cirebon, Jawa Barat. Ia adalah putra
sulung Kyai Abdul Jamil, Putra Kyai Muta'ad, sedangkan Kyai Muta'ad
adalah menantu Mbah Muqqayim (pendiri pesantren Buntet Cirebon).
(Berikut kisah perjalanan Kyai Abbas bin Abdul Jamil dari Cirebon ke
Surabaya, diambil dari penuturan Abdul Wachid, salah seorang
pengawal Kyai Abbas bin Abdul Jamil)
Ribuan Alu Beterbangan
Pada hari itu, kalau tidak salah tanggal 6 november 1945, saya dengan 3
orang, yaitu Usman, Abdullah, dan Sya'rani, mendapat tugas dari
Detasemen Hizbullah Resimen XII/SGD untuk mengawal Kyai Abbas bin Abdul
Jamil ke front Surabaya.
Pada jam 06.30, rombongan kami, dengan diiringi pasukan Hizbullah
Resimen XII/SGD Divisi I Syarief Hidayat, meninggalkan markas Detasemen
menuju stasiun Prujakan Cirebon. dalam rombongan kami, selain tiga
pengawal serta Kyai Abbas bin Abdul Jamil, juga ikut K.H Achmad Tamin
dari Losari sebagai pendamping Kyai Abbas. Selanjutnya kami naek kereta
api Express.
Waktu itu Kyai Abbas mengenakan jas buka abu-abu, kain sarung plekat
bersorban, dan beralas kaki terompah (sandal jepit kulit). Beliau
menyerahkan sebuah kantung kepada saya. Saya merabanya ternyata isinya
sandal bakyak. saya sempat heran bahkan tertawa sendiri, untuk apa
bakyak ini? Bukankah Kyai sudah memakai terompah? atau senjata perang?
masa, senjata kok bakyak?
Sekitar pukul 17.00, kereta api yang kami tunggangi masuk stasiun
Rembang, Jawa Tengah. ternyata sudah banyak orang yang menunggu. Lalu
kami diantar ke Pondok Pesantren kyai Bisri di Rembang,. malam harinya,
ba'da sholat isya, para ulama yang jumlahnya kurang lebih dari 15 orang,
mengadakan musyawarah untuk menentukan komando atau kepemimpinan di
Surabaya. hasil musyawarah memutuskan, komando pertempuran dipercayakan
kepada Kyai Abbas.
Ba'da sholat shubuh, Pondok Pesantren Rembang sudah ramai, para santri
sudah siap berangkat ke Surabaya. saat itu banyak yang berseragam
Hizbullah. Dihalaman masjid sudah ada dua mobil sedan kuno berkapasitas
empat orang penumpang. Kyai Abbas memanggil saya dan rekan-rekan
pengawal dari cirebon dan miminta bingkisan (Bakyak) yang dititipkannya
kepada saya. Kyai Abbas juga menyuruh kami, pengawal dari cirebon, untuk
tidak kemana-mana sampai kembalinya dari Surabaya.
Setelah itu, Kyai Abbas naik salah satu mobil Kyai Bisri di jok
belakang, sementara Kyai Achmad Tamin duduk didepan dengan sopir. Sedang
sedan yang satunya lagi berpenumpang empat orang Kyai yang saya sendiri
tidak tahu namanya. Dengan diiringi pekik Takbir "Allahu Akbar" dan
pekik "Merdeka" !! yang saling bersahutan, rombongan Kyai itu perlahan
bergerak meninggalkan Pondok Pesantren Rembang.
Setelah Hampir sepekan kami berada di Pondok Pesantren Rembang, beberapa
laskyar Hizbullah yang merupakan santri Pondok Pesantren Rembang
datang. kedatangannya disambut oleh para santri, termasuk juga kami.
Mereka pun langsung diberondong tentang pertanyaan situasi-situasi
peperangan di Surabaya.
Menurut cerita Santri Rembang yang baru datang tersebut, begitu
rombongan para Kyai tersebut datang, mereka langsung disambut dengan
gemuruh takbir dan pekik merdeka. para Kyai langsung masuk ke masjid dan
melakukan shalat sunah. Usai Sholat sunnah, Kyai Abbas memerintahkan
pada laskyar dan para pemuda yang akan berjuang untuk mengambil air
wudhu dan meminum air yang telah didoai.
Tak menunggu lama mereka langsung mengambil air wudhu disana. Ada dari
mereka yang mungkin merasa kurang dengan hanya berwudhu hingga
menerjunkan diri masuk dalam kolam. Kemudian, bagaikan lebah keluar dari
sarangnya,. pemuda-pemuda dari segala lapisan badan Perjuangan
Arek-Arek Suroboyo menyerbu Belanda dengan diiringi takbir dan pekik
merdeka yang bergemuruh dipenjuru kota Surabaya yang disambut dengan
rentetan tembakan gencar dari Serdadu Belanda.
Korban berjatuhan dari kedua belah pihak, terutama dari pihak kita. yang
hanya bersenjata bambu runcing, pentungan, atau golok seadanya, yang
disongsong dengan smeburan peluru dari berbagai senjata otomatis modern,
sungguh tragis dan mengerikan. "kami dengan para Kyai berada di tempat
yang agak tinggi, jadi jelas sekali dapat meilaht keadaan dibawah sana".
Kata salah seorang Santri Rembang yang ternyata pengawal Kyai Bisri
Rembang.
Saat itu, Santri Rembang itu melanjutkan ceritanya, Kyai Abbas
mengenakan alas kaki bakyak berdiri tegak dihalaman masjid sambil berdoa
dengan menengadahkan kedua tangannya kelangit. "Saya melihat dengan
kedua mata kepala saya sendiri keajaiban yang luar biasa. Beribu-ribu
alu (penumbuk padi) dan lesung (tempat padi saat ditumbuk) dari
rumah-rumah rakyat berhamburan terbang menerjang serdadu-serdadu
Belanda. Suaranya bergemuruh bagaikan air bah sehingga Belanda kwalahan
dan merekapun mundur ke kapal induk mereka".
Pesawat Meledak Sebelum Beraksi
Tidak lama kemudian, pihak sekutu mengirim pesawat Bomber Hercules. Tapi
Pesawat itu tiba-tiba meledak di udara sebelum beraksi. Kemudian
beberapa pesawat sekutu berturut-turut datang lagi yang maksudnya akan
menjatuhkan Bom-Bom untuk menghancurkan kota Surabaya, namun
pesawat-pesawat tersebut itupun mengalami nasib yang sama, meledak
diudara sebelum beraksi.
"Disitulah kehebatan Kyai Abbas bin Abdul Jamil yang saya saksiakn
sendiri". kata Santri Rembang meyakinkan para santri lainnya saat itu.
Keesokan harinya, iya melanjutkan kesaksiaanya, Pihak musuh datang lagi
berbondong-bondong. Dengan menggunakan Tank-Tank dan truk-truk, mereka
menyerang kubu-kubu pertahanan laskyar kita dengan iringan dentuman
kanon dan mortir serta rentetan tembakan-tembakan dari pesawat udara
yang cukup banyak jumlahnya. Tentara dan laskyar kita banyak yang gugur
dan terpaksa mundur dipinggir kota Surabaya. Menjelang malam hari tiba,
pertempuran mereda. hanya beberapa tembakan kecil yang masih terdengar
disana sini.
Kemudian kami diperintahkan pulang oleh Kyai Bisri untuk menyampaikan
berita keadaan difront Surabaya kepada keluarga dan warga Pondok
Pesantren bahwa pak Kyai (Kyai Bisri) dan para alim ulama lainnya dalam
kedaan selamat, sehat wal afiat. Warga pondok dan masyarakat rembang
diminta untuk berdoa kepada Allah SWT atas pelindungan, keselamatan, dan
kemenangan bagi para pejuang kita yang sedang dalam pertempuran melawan
dan mengusir penjajah Belanda dari Bumi Indonesia.
Tiga hari kemudian, menjelang pagi, Kyai Abbas bin Abdul Jamil dengan
pendampingnya, Kyai Achmad Tamin dan Kyai Bisri Rembang serta beberapa
Kyai lainnya datang. Dari mereka, kami tidak banyak memperoleh informasi
tentang kejadian Surabaya. Setelah subuh, kami para pengawal dari
Cirebon, diperintahkan berkemas-kemas untuk pulang kembali ke Cirebon.
Dengan menumpang Kereta Api Express, pukul 06.00, kami bertolak
meninggalkan Rembang dan tiba di Cirebon dengan selamat sekitar pukul
17.30. Sepanjang perjalanan dari Rembang ke Cirebon, tidak banyak yang
kami bicarakan. Tampaknya Kyai Abbas dalam kelelahan dan mengantuk yang
sangat teramat. Selama di Surabaya Kyai Abbas kurang istirahat dan
kurang tidur.
Tetapi sesampainya Di Cirebon, Beliau menceritakan banyak hal tentang
perang tersebut, serdadu belanda mundur, dan akhirnya perang dimenangkan
oleh para kyai dan semua pahlawan dari surabaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar