Pendaratan bala tentara kolonial Jepang
akhirnya berdampak juga pada kegiatan para santri dan kiai di Pondok
Pesantren Tebuireng, Jombang. Apalagi ketika Kempeitai mencurigai Kiai
Hasyim Asy’arie (Ikranegara) terlibat dalam kerusuhan di PG Cukir. Pada
suatu pagi ketika Sang Kiai sedang berkumpul dengan putra-putranya,
termasuk KH Wahid Hasyim (Agus Kuncoro), sepasukan Kempeitai Jepang
datang mengepung Pondok Tebuireng. Mereka ingin menangkap Sang
Hadratussyaikh. Para santri Tebuireng sangat terkejut dengan kedatangan
Kempeitai yang ingin menangkap Kiai Hasyim. Bahkan salah satu putra Kiai
Hasyim, yakni Karim Hasyim, menunjukkan kebenciannya terhadap Jepang
dengan mencoba mengibarkan Sang Merah Putih di salah satu sudut
pesantren. Namun tembakan peringatan Kempeitai yang membawa senapan
mesin kaliber berat membuat Sang Kiai mengambil keputusan bersedia
ditahan untuk menghindari jatuhnya korban yang tidak perlu.
source : muvila.com
Namun keberadaan Harun (Adipati Dolken) yang
merupakan tokoh fiktif dan kisahnya turut membangun plot film ini
sedikit mengurangi nilai kesejarahan kisah yang diangkat. Memang
keberadaan tokoh-tokoh fiktif dalam suatu film sejarah sangat lazim
diketemukan karena bisa dipergunakan untuk membuat cerita lebih dinamis
dan lebih dramatis. Namun tokoh fiktif sering juga disertakan karena
motif ekonomis industri film. Apalagi jika pemeran tokoh fiktif itu
aktor atau artis terkenal yang wajahnya rupawan.
Dalam Sang Kiai, setidaknya keberadaan Harun turut
berkontribusi dalam memperjelas sosok KH Hasyim Asy’arie sebagai seorang
Guru sekaligus seorang Bapak. Harun yang dikisahkan mulai nyantri di
Tebuireng sejak kecil sangat menghormati dan menyayangi Sang Kiai.
Sebaliknya Sang Kiai pun menganggap Harun sebagai salah satu anggota
keluarganya. Ini antara lain terlihat dari bagaimana KH Hasyim membantu
Harun dalam melamar Sari (Meriza Febriani).
Sebaliknya ketika KH Hasyim Asy’arie dibawa
Kempeitai, Harun juga menunjukkan rasa sayangnya pada Sang Kiai dengan
mencoba membuntuti tentara Jepang walau keputusan ini akhirnya berakibat
fatal pada gugurnya salah satu sahabat Harun yang ditembak oleh
Kempeitai. Ikatan emosional antara Harun dan Sang Kiai digambarkan
memang sangat kuat dalam film ini. Sampai-sampai Harun yang akan
berangkat bertempur di Surabaya pun merasa sangat berat sebelum
berpamitan dengan Sang Kiai walau hanya sempat sekedar mencium sorbannya
yang tergantung di tempat wudhu.
Sebenarnya jika penulis skenario maupun sutradara
film ini berani menggali peran tokoh-tokoh nyata dalam film ini, mungkin
Sang Kiai akan sangat lebih menarik. Rasa hormat dan simpati Abdul
Hamid Nobuharu Ono yang merupakan anggota Beppan (Intelijen Jepang)
terhadap KH Hasyim Asy’arie merupakan fakta sejarah yang menarik dan
bisa digali lebih dalam lagi untuk dituangkan ke dalam sebuah film. Film
ini juga kurang memberi porsi pengisahan yang cukup terhadap
putra-putra Sang Hadratussyaikh, seperti KH Karim Hasyim, KH Kholiq
Hasyim dan KH Yusuf Hasyim. KH Kholiq Hasyim yang sempat menjadi anggota
PETA (Pembela Tanah Air) hanya sempat ditampilkan sejenak dalam film
dengan mengenakan seragamnya. Padahal dengan latar belakang sebagai
anggota PETA, KH Kholiq yang pensiun dengan pangkat terakhir Letnan
Kolonel tentu memiliki banyak sisi heroik yang menarik untuk difilmkan.
Untungnya sebagai suatu film yang bercerita tentang
kisah kepahlawanan, Sang Kiai sudah berhasil menggambarkan heroisme KH
Hasyim Asy’arie dengan sangat menarik. Sang Kiai digambarkan tetap teguh
menentang Seikerei walau sempat disiksa secara kejam oleh Komandan Kempeitai yang diperankan dengan sangat apik oleh Dimas Shimada. Seikerei adalah
penghormatan terhadap Kaisar Jepang dengan cara membungkukkan badan ke
arah matahari terbit. Sesuai ajaran Islam penghormatan dengan cara
tersebut sama saja dengan merusak akidah karena tergolong menyekutukan
Tuhan dan merupakan perbuatan syirik.
Pihak tentara kolonial Jepang akhirnya luluh
terhadap keteguhan iman Sang Kiai. Bahkan Jepang malah berbalik
mempergunakan pengaruh KH Hasyim Asy’arie untuk menggalang dukungan dari
kalangan umat Islam. Jepang yang lambat laun mulai membutuhkan bantuan
tenaga untuk kepentingan perangnya mendekati Sang Kiai agar mengerahkan
para pemuda Islam untuk dilatih ke dalam satuan Hizbullah. Dalam hal
pembentukan satuan Hizbullah ini, Kiai Hasyim Asy’arie memiliki
perspektif strategis karena suatu saat pemuda-pemuda yang terlatih akan
sangat berguna dalam mempertahankan tanah air.
Terbukti ketika Jepang menyerah pada sekutu dan
Belanda mencoba menduduki kembali Indonesia, para santri Tebuireng yang
memiliki pengalaman berlatih sebagai anggota Hizbullah menjadi tulang
punggung pertempuran di berbagai palagan, termasuk pertempuran yang
menewaskan Brigjend Mallaby pada 30 Oktober 1945 dan Pertempuran 10
November 1945.
Satu aspek menarik lainnya dari film Sang Kiai
adalah adegan tewasnya Brigjend Mallaby. Masalah tewasnya Mallaby hingga
sekarang masih kerap diperdebatkan penyebabnya. Meskipun demikian Sang
Kiai termasuk film yang berani merekonstruksi peristiwa tersebut secara
menarik dan lumayan mendetil. Adegan seperti ini seingat penulis belum
ditemukan di film-film Indonesia sebelumnya, termasuk film Soerabaia 1945 sekalipun.
Apalagi pemeran Mallaby dan Ajudannya, Kapten RC Smith, tampil sangat
meyakinkan sebagai tentara Inggris dengan aksen khasnya.
Sebagai penutup, tanpa bermaksud menggurui
sutradara film ini, penulis melihat ada satu hal yang mungkin
terlupakan. Sebagai film yang bersetting budaya Jawa Timur, Sang Kiai
bisa lebih otentik jika menyertakan elemen kesenian Ludruk sebagai
bagian dari film. Misalnya, menjadikan musik Ludruk sebagai bagian dari film score.
Apalagi pada masa penjajahan Jepang, kesenian Ludruk juga digunakan
sebagai media perlawanan terhadap Jepang, seperti yang dilakukan oleh
Cak Durasim melalui parikan-parikan Ludruknya yang tetap dikenang hingga
sekarang. Sayangnya film yang bagus ini tidak menampilkan elemen Jawa
Timuran yang khas tersebut mulai awal hingga akhir film.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar