selamat datang saudraku...?????

Pink Spinning Frozen Snowflake

Rabu, 10 Desember 2014

Sang Kiai: Kisah Seorang Bapak, Seorang Guru Sekaligus Patriot

Pendaratan bala tentara kolonial Jepang akhirnya berdampak juga pada kegiatan para santri dan kiai di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Apalagi ketika Kempeitai mencurigai Kiai Hasyim Asy’arie (Ikranegara) terlibat dalam kerusuhan di PG Cukir. Pada suatu pagi ketika Sang Kiai sedang berkumpul dengan putra-putranya, termasuk KH Wahid Hasyim (Agus Kuncoro), sepasukan Kempeitai Jepang datang mengepung Pondok Tebuireng. Mereka ingin menangkap Sang Hadratussyaikh. Para santri Tebuireng sangat terkejut dengan kedatangan Kempeitai yang ingin menangkap Kiai Hasyim. Bahkan salah satu putra Kiai Hasyim, yakni Karim Hasyim, menunjukkan kebenciannya terhadap Jepang dengan mencoba mengibarkan Sang Merah Putih di salah satu sudut pesantren. Namun tembakan peringatan Kempeitai yang membawa senapan mesin kaliber berat membuat Sang Kiai mengambil keputusan bersedia ditahan untuk menghindari jatuhnya korban yang tidak perlu.
1370344530635000711
source : muvila.com
Itulah salah satu potongan adegan dalam film Sang Kiai yang disutradarai oleh Rako Prijanto. Film yang dibintangi oleh gabungan artis kawakan dan artis yunior ini konon dibiayai dengan dana milyaran. Hasilnya memang tidak mengecewakan. Film yang berdurasi kurang lebih dua jam ini menjadi suatu film yang sangat menarik untuk ditonton. Apalagi setelah Sang Pencerah dan Soegija, film-film yang mengisahkan kiprah para tokoh nasional sangat langka ditemui. Selain itu, pemilihan setting cerita dalam film Sang Kiai yang mengisahkan kiprah beliau dalam kurun waktu 1942-1947 akan menambah khazanah pembelajaran sejarah Indonesia dalam bentuk audio visual terlebih karena kajian-kajian sejarah tentang perjuangan pada masa pendudukan Jepang masih belum banyak jika dibandingkan dengan kajian perjuangan pada masa Revolusi Fisik 1945-1950.
Namun keberadaan  Harun (Adipati Dolken) yang merupakan tokoh fiktif dan kisahnya turut membangun plot film ini sedikit mengurangi nilai kesejarahan kisah yang diangkat. Memang keberadaan tokoh-tokoh fiktif dalam suatu film sejarah sangat lazim diketemukan karena bisa dipergunakan untuk membuat cerita lebih dinamis dan lebih dramatis. Namun tokoh fiktif sering juga disertakan karena motif ekonomis industri film. Apalagi jika pemeran tokoh fiktif itu aktor atau artis terkenal yang wajahnya rupawan.
Dalam Sang Kiai, setidaknya keberadaan Harun turut berkontribusi dalam memperjelas sosok KH Hasyim Asy’arie sebagai seorang Guru sekaligus seorang Bapak. Harun yang dikisahkan mulai nyantri di Tebuireng sejak kecil sangat menghormati dan menyayangi Sang Kiai. Sebaliknya Sang Kiai pun menganggap Harun sebagai salah satu anggota keluarganya. Ini antara lain terlihat dari bagaimana KH Hasyim membantu Harun dalam melamar Sari (Meriza Febriani).
Sebaliknya ketika KH Hasyim Asy’arie dibawa Kempeitai, Harun juga menunjukkan rasa sayangnya pada Sang Kiai dengan mencoba membuntuti tentara Jepang walau keputusan ini akhirnya berakibat fatal pada gugurnya salah satu sahabat Harun yang ditembak oleh Kempeitai.  Ikatan emosional antara Harun dan Sang Kiai digambarkan memang sangat kuat dalam film ini. Sampai-sampai Harun yang akan berangkat bertempur di Surabaya pun merasa sangat berat sebelum berpamitan dengan Sang Kiai walau hanya sempat sekedar mencium sorbannya yang tergantung di tempat wudhu.
Sebenarnya jika penulis skenario maupun sutradara film ini berani menggali peran tokoh-tokoh nyata dalam film ini, mungkin Sang Kiai akan sangat lebih menarik. Rasa hormat dan simpati Abdul Hamid Nobuharu Ono yang merupakan anggota Beppan (Intelijen Jepang) terhadap KH Hasyim Asy’arie merupakan fakta sejarah yang menarik dan bisa digali lebih dalam lagi untuk dituangkan ke dalam sebuah film. Film ini juga kurang  memberi porsi pengisahan yang cukup terhadap putra-putra Sang Hadratussyaikh, seperti KH Karim Hasyim, KH Kholiq Hasyim dan KH Yusuf Hasyim. KH Kholiq Hasyim yang sempat menjadi anggota PETA (Pembela Tanah Air) hanya sempat ditampilkan sejenak dalam film dengan mengenakan seragamnya. Padahal dengan latar belakang sebagai anggota PETA, KH Kholiq yang pensiun dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel tentu memiliki banyak sisi heroik yang menarik untuk difilmkan.
Untungnya sebagai suatu film yang bercerita tentang kisah kepahlawanan, Sang Kiai sudah berhasil menggambarkan heroisme KH Hasyim Asy’arie dengan sangat menarik. Sang Kiai digambarkan tetap teguh menentang Seikerei walau sempat disiksa secara kejam oleh Komandan Kempeitai yang diperankan dengan sangat apik oleh Dimas Shimada. Seikerei adalah penghormatan terhadap Kaisar Jepang dengan cara membungkukkan badan ke arah matahari terbit. Sesuai ajaran Islam penghormatan dengan cara tersebut sama saja dengan merusak akidah karena tergolong menyekutukan Tuhan dan merupakan perbuatan syirik.
Pihak tentara kolonial Jepang akhirnya luluh terhadap keteguhan iman Sang Kiai. Bahkan Jepang malah berbalik mempergunakan pengaruh KH Hasyim Asy’arie untuk menggalang dukungan dari kalangan umat Islam. Jepang yang lambat laun mulai membutuhkan bantuan tenaga untuk kepentingan perangnya mendekati Sang Kiai agar mengerahkan para pemuda Islam untuk dilatih ke dalam satuan Hizbullah. Dalam hal pembentukan satuan Hizbullah ini, Kiai Hasyim Asy’arie memiliki perspektif strategis karena suatu saat pemuda-pemuda yang terlatih akan sangat berguna dalam mempertahankan tanah air.
Terbukti ketika Jepang menyerah pada sekutu dan Belanda mencoba menduduki kembali Indonesia, para santri Tebuireng yang memiliki pengalaman berlatih sebagai anggota Hizbullah menjadi tulang punggung pertempuran di berbagai palagan, termasuk pertempuran yang menewaskan Brigjend Mallaby pada 30 Oktober 1945 dan Pertempuran 10 November 1945.
Satu aspek menarik lainnya dari film Sang Kiai adalah adegan tewasnya Brigjend Mallaby. Masalah tewasnya Mallaby hingga sekarang masih kerap diperdebatkan penyebabnya. Meskipun demikian Sang Kiai termasuk film yang berani merekonstruksi peristiwa tersebut secara menarik dan lumayan mendetil. Adegan seperti ini seingat penulis belum ditemukan di film-film Indonesia sebelumnya, termasuk film Soerabaia 1945 sekalipun. Apalagi pemeran Mallaby dan Ajudannya, Kapten RC Smith, tampil sangat meyakinkan sebagai tentara Inggris dengan aksen khasnya.
Sebagai penutup, tanpa bermaksud menggurui sutradara film ini, penulis melihat ada satu hal yang mungkin terlupakan. Sebagai film yang bersetting budaya Jawa Timur, Sang Kiai bisa lebih otentik jika menyertakan elemen kesenian Ludruk sebagai bagian dari film. Misalnya, menjadikan musik Ludruk sebagai bagian dari film score. Apalagi pada masa penjajahan Jepang, kesenian Ludruk juga digunakan sebagai media perlawanan terhadap Jepang, seperti yang dilakukan oleh Cak Durasim melalui parikan-parikan Ludruknya yang tetap dikenang hingga sekarang. Sayangnya film yang bagus ini tidak menampilkan elemen Jawa Timuran yang khas tersebut mulai awal hingga akhir film.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Blogger Templates