Sepuluh Bukti Dari Al Quran Dan Hadist Nabi SAW Bahwa Memperingati Kelahiran Nabi SAW Dapatlah Diterima
Mawlana Syaikh
Hisyam Kabbani qs
Maulid dan Ziarah Ke Makam Nabi saw
Perintah Meningkatkan Rasa Cinta dan Hormat kepada Nabi Muhammad Saw.
Pertama,
Allah swt meminta Nabi Muhammad Saw. agar mengingatkan umatnya bahwa sangatlah
penting bagi siapa saja yang menyatakan mencintai Allah swt untuk mencintai
Nabi-Nya juga, “Katakanlah kepada mereka,
‘Jika kalian mencintai Allah swt, ikuti (dan cintai dan hormatilah) aku,
niscaya Allah swt akan mencintai kalian’”(3:31).
Memperingati hari kelahiran
Rasulullah Saw atau sering disebut Maulid Nabi Saw. didorong oleh perintah
untuk mencintai, menaati, mengingat, dan mengikuti contoh Nabi Muhammad Saw.,
serta merasa bangga dengannya sebagaimana Allah swt menunjukkan kebanggaan-Nya
dengannya. Dalam Kitab Suci-Nya, Allah swt begitu membanggakannya dengan
berfirman, “Sungguh engkau memiliki budi
pekerti yang begitu agung” (68: 4).
Cinta kepada Nabi Muhammad Saw. dapat menjadi pembeda keimanan di antara kaum
beriman. Dalam sebuah hadis sahih riwayat al-Bukhârî dan Muslim, Nabi saw.
pernah bersabda, “Tak seorang pun di
antara kamu beriman, sampai ia mencintaiku lebih dari ia mencintai
anak-anaknya, orang tuanya, dan semua orang.” Dalam hadis al-Bukhârî
lainnya, beliau bersabda, “Tak seorang
pun di antara kamu beriman sampai ia mencintaiku lebih dari ia mencintai
dirinya sendiri.” ‘Umar ibn al-Khaththâb ra berkata,“Wahai Nabi saw, Aku
sungguh mencintaimu melebihi diriku sendiri.”
Kesempurnaan iman tergantung pada
cinta kepada Rasulullah Saw., karena Allah swt dan para malaikat-Nya
terus-menerus menyatakan penghormatannya, sebagaimana begitu jelas disebutkan
dalam ayat berikut, “Allah swt dan para
malaikat-Nya berselawat kepada Nabi saw” (33:56). Perintah Tuhan, “Wahai
orang-orang beriman, berselawatlah kepadanya,” segera menyusulnya, menambah
jelas bahwa kualitas seorang mukmin sangat tergantung pada dan dijelmakan
dengan pembacaan selawat kepada Nabi Muhammad Saw. Rasulullah Saw.
Menekankan Hari Senin sebagai Hari Beliau Dilahirkan
Kedua,
Abû Qatâdah al-Anshârî meriwayatkan bahwa Nabi saw. pernah ditanya mengenai
puasa di hari Senin. Beliau kemudian menjawab, “Hari itu adalah hari saya dilahirkan dan hari saya menerima wahyu.”
1 Syekh Mutawallî al-Sya‘râwî menulis, “Banyak peristiwa luar biasa terjadi
pada hari kelahirannya sebagaimana disebutkan dalam hadis dan sejarah. Malam
waktu Nabi saw dilahirkan tidaklah seperti malam-malam kelahiran manusia
lainnya.”
2 Sedangkan menurut Ibn al-Hajj,
“Adalah suatu keharusan bagi kita pada setiap hari Senin bulan Rabiul Awal
untuk meningkatkan ibadah kita sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah swt
atas karunia-Nya yang begitu besar yang telah diberikan kepada kita–yaitu
diutusnya Nabi saw. untuk membimbing kita kepada Islam dan kedamaian… Nabi
saw., ketika menjawab seseorang yang bertanya kepada beliau mengenai puasa di
hari Senin, menyatakan, “Aku dilahirkan pada hari itu.” Oleh karena itu, hari
tersebut memberikan kehormatan bagi bulan itu, karena itu adalah harinya Nabi
saw.
Dan beliau saw pun mengatakan,
“Aku junjungan (sayyid) bagi semua anak-cucu Adam as, dan aku mengatakannya
tanpa kesombongan” … dan beliau pun mengatakan,“Adam as dan siapa saja
keturunannya akan berada di bawah benderaku pada Hari Peradilan kelak.”
Hadis-hadis ini diriwayatkan oleh al-Syaykhâni (al-Bukhârî dan Muslim). Muslim
dalam Shahîh-nya menyatakan bahwa Nabi saw. bersabda, “Pada hari itu, yaitu
Senin, saya dilahirkan, dan pada hari itu pula risalah pertama disampaikan
kepadaku.”
3 Rasulullah Saw. menaruh
perhatian khusus pada hari kelahirannya dan bersyukur kepada Allah swt, karena
memberinya kehidupan, dengan berpuasa pada hari itu, sebagaimana disebutkan
dalam hadis Abû Qatâdah. Nabi saw. menyatakan kebahagiaannya akan hari tersebut
dengan berpuasa, yang merupakan sebentuk ibadah. Sebagaimana Nabi saw. telah
memberi perhatian khusus pada hari tersebut dengan berpuasa, maka ibadah dalam
bentuk apa saja untuk memberi perhatian khusus atas hari tersebut dapat pula
dibenarkan. Meskipun bentuk ibadahnya berbeda, tetapi esensinya tetap sama.
Oleh karena itu, berpuasa, memberi makan fakir miskin, berkumpul untuk
melantunkan pujian kepada Nabi saw., atau berkumpul untuk mengingat perilaku
dan budi pekerti baiknya, semuanya dapat dipandang sebagai cara menaruh
perhatian khusus pada hari tersebut.
4 Allah swt Berfirman, “Bergembiralah dengan Nabi Muhammad Saw”
Ketiga,
Menyatakan kebahagiaan dengan kedatangan Nabi saw. adalah perintah Allah swt
dalam Alquran, sebagaimana firman-Nya, “Dengan
karunia Allah swt dan rahmat-Nya, maka hendaklah mereka bergembira” (10:58). Perintah ini ada karena rasa
senang dapat membuat hati merasa bersyukur atas rahmat Allah swt. Rahmat Allah
swt mana yang lebih besar ketimbang diri Nabi saw. sendiri. Allah swt
menyatakan, “Tiadalah Aku utus engkau
kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam” (21:107).
Karena Rasulullah Saw. diutus
sebagai rahmat untuk seluruh umat manusia, maka merupakan suatu keharusan,
tidak saja atas muslimin tetapi juga semua umat manusia untuk merayakan
kehadirannya. Sayangnya, masih ada sebagian muslim yang tampil menolak perintah
Allah swt untuk bersuka ria atas kelahiran Nabi-Nya.
Nabi saw. Memperingati Peristiwa-Peristiwa Besar dalam Sejarah
Keempat,
Rasulullah Saw. selalu membuat hubungan di antara peristiwa-peristiwa agama dan
sejarah, sehingga bila tiba suatu hari ketika terjadi suatu peristiwa penting,
beliau mengingatkan para sahabat untuk merayakan hari itu dan menegaskan
keistimewaannya, meskipun peristiwa tersebut terjadi pada masa yang sangat
lampau. Dasarnya dapat ditemukan dalam hadis berikut. Tatkala Nabi saw. sampai
di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada Hari Asyura. Beliau
bertanya mengenai hari tersebut, dan beliau diberi tahu bahwa pada hari itu
Allah swt menyelamatkan Nabi mereka, yakni Musa as, dan menenggelamkan
musuhnya. Karena itulah mereka berpuasa pada hari tersebut untuk bersyukur
kepada Allah swt atas karunia ini.
5 Pada saat itu juga Nabi saw.
menanggapinya dengan hadis yang terkenal, “Kita
lebih berhak atas Musa as daripada kalian,” dan beliau pun melakukan puasa
pada hari itu dan hari sebelumnya.
Allah swt Berfirman, “Ber sholawatlah kepada Nabi saw”
Kelima,
peringatan atas kelahiran Nabi saw. mendorong kita untuk ber sholawat kepada
Nabi saw. dan menyampaikan pujian atasnya, yang menjadi suatu keharusan
berdasarkan ayat, “Sesungguhnya Allah swt
dan para malaikat-Nya berselawat kepada Nabi saw. Wahai orang-orang beriman,
berselawatlah kamu untuk Nabi saw dan ucapkanlah salam kepadanya dengan sepenuh
hati” (33:56). Karena datang
bersama-sama dan mengenang jasa-jasa Nabi saw. dapat membawa kita untuk
berselawat dan memujinya, maka ini selaras dengan perintah Allah swt. Siapakah
yang punya hak untuk mengingkari keharusan yang telah diperintahkan Allah swt
kepada kita melalui Alquran? Manfaat yang dibawa oleh ketaatan pada perintah
Allah swt dan cahaya yang dibawanya ke dalam hati tidaklah dapat diukur. Lebih
jauh lagi, keharusan tersebut dinyatakan dalam bentuk jamak, yaitu Allah swt
dan para malaikat-Nya ber sholawat dan mengucap salam kepada Nabi saw.—secara
bersama-sama. Karena itu, sama sekali tidaklah benar mengatakan bahwa membaca
selawat dan salam kepada Nabi saw. tak boleh dilakukan secara berkelompok, tetapi
harus sendiri-sendiri.
Pengaruh Menyaksikan Peringatan Kelahiran Nabi terhadap Kaum Kafir
Keenam, mengungkapkan
kegembiraan dan memperingati hari kelahiran Rasulullah Saw., dengan karunia dan
rahmat Allah swt, dapat mendatangkan keberuntungkan bagi orang kafir sekalipun.
6 Imam al-Bukhârî menyatakan dalam hadisnya bahwa setiap hari Senin, Abû Lahab
dibebaskan dari siksaannya di alam kubur, karena ia telah memerdekakan budak
perempuannya, yaitu Tsuwaybah, pengasuh Nabi saw. Beberapa ulama, di antaranya
Ibn Katsîr dan Ibn Nâshir al-Dîn al-Dimasyqî, mengatakan bahwa ini karena Abû
Lahab sangat bergembira tatkala Tsuwaybah membawa kabar kepadanya tentang
kelahiran keponakannya itu. Meskipun demikian, agaknya pemerdekaan ini terjadi
pada saat Nabi saw sudah dewasa, yaitu pada saat hijrah ke Madinah. 7 Tentang
hal ini, Hafiz Syams al-Dîn Muhammad ibn Nâshir al-Dîn al-Dimasyqî menulis bait
syair berikut, “Bila ini, seorang kafir yang dikutuk untuk kekal di neraka
dengan ucapan ‘celakalah kedua tangannya’ (Q. 111), dikatakan menikmati masa
tenang pada setiap hari Senin, karena ia bergembira dengan (kelahiran) Ahmad
saw, lantas bagaimana menurutmu seorang hamba yang, sepanjang hidupnya,
bergembira dengan Ahmad saw, dan meninggal seraya mengucap, ‘Ahad (Esa)’” 8
Keharusan Mengetahui Sirah Nabi saw. dan Meniru Perilakunya
Ketujuh,
kita dituntut untuk mengetahui Nabi Muhammad Saw., baik kehidupannya,
mukjizatnya, kelahirannya, perilakunya, keimanannya, tanda-tanda
(kenabian)-nya, khalwatnya, ataupun ibadahnya. Tidakkah mengetahui hal-hal
seperti ini merupakan keharusan bagi setiap muslim? Apa lagi yang lebih baik
dari merayakan dan memperingati kelahirannya, atau sering juga disebut perayaan
Maulid yang mewakili babak penting hidupnya, untuk dapat memahami kehidupannya?
Memperingati kelahirannya akan mengingatkan kita tentang segala hal lain yang
berhubungan dengan kehidupannya, sehingga memungkinkan kita untuk mengenal
perjalanan hidup (sirah) Nabi saw. dengan lebih baik. Kita akan lebih siap
untuk menjadikan Nabi saw. sebagai panutan, memperbaiki diri kita, dan meniru
kepribadian beliau. Itulah mengapa perayaan hari kelahirannya merupakan suatu
karunia besar bagi seluruh umat muslim.
Nabi saw. Setuju dengan Syair Pujian Terhadapnya
Kedelapan,
sudah diketahui benar bahwa pada masa Nabi saw., para penyair berdatangan ke
hadapannya dengan berbagai jenis karyanya yang berisi pujian terhadapnya.
Mereka menulis dalam syair-syair tersebut tentang perang dan panggilan
jihadnya, juga tentang para sahabatnya. Ini dapat ditemukan dalam berbagai
syair yang dikutip dalam sirah Nabi saw. yang disusun oleh Ibn Hisyâm,
al-Wâqidî, dan yang lain. Nabi saw. sangat senang dengan syair yang bagus,
sebagaimana diriwayatkan al-Bukhârî dan yang lain bahwa beliau bersabda, “Dalam
syair itu ada hikmah (kata-kata bijak).” 9 Paman Nabi saw., al-‘Abbâs,
menggubah sebuah syair yang menyanjung kelahiran Nabi saw, yang memuat
bait-bait berikut:
Tatkala engkau dilahirkan, bumi
bersinar terang,
Dan cakrawala benderang penuh
cahayamu,
Sehingga kami dapat tembus
memandang,
Segala syukur kupanjatkan atas
sinar terang,
Cahaya dan jalan yang menunjuki
itu.
10 Ibn Katsîr menyebutkan fakta
bahwa, menurut para sahabat, Nabi saw. memuji namanya sendiri dan membacakan
syair tentang dirinya di tengah-tengah Perang Hunain untuk membangkitkan
semangat para sahabatnya dan membuat takut musuh-musuhnya. Pada hari itu beliau
mengatakan: “Akulah Nabi saw! Ini bukan kebohongan. Aku anak ‘Abd al-Muthâlib.”
Nabi Muhammad saw. merasa senang
dengan orang-orang yang menyampaikan pujian kepadanya, karena itu merupakan
perintah Allah swt dan beliau pun suka memberi mereka sesuatu yang Allah swt
anugerahkan kepadanya. Allah swt sudah pasti sangat menyenangi orang-orang yang
berkumpul dan berusaha mengenali dan mencintai Rasulullah saw.
Menyanyi dan Membacakan Syair
Ada keterangan kuat bahwa Rasulullah
saw. menyuruh ‘Â’isyah membiarkan dua gadis menyanyi pada hari raya. Beliau
berkata kepada Abû Bakr, “Biarkanlah mereka menyanyi, karena setiap bangsa
memiliki hari rayanya, dan hari ini adalah hari raya kita.” Ibn al-Qayyim
berkomentar bahwa Nabi saw. juga mengizinkan menyanyi pada perayaan perkawinan,
dan membolehkan syair dibacakan kepadanya. 11 Beliau mendengarkan Anas dan para
sahabatnya yang memuji-mujinya dan membacakan syair-syair sambil menggali tanah
sebelum terjadinya Perang Khandak (Parit) yang terkenal itu; beliau
mendengarkan mereka yang mengatakan: “Kitalah orang-orang yang memberikan baiat
(sumpah setia) kepada Muhammad saw untuk berjihad sepanjang hayat.” Ibn al-Qayyim
juga menyebutkan bahwa ‘Abd Allâh ibn Rawâhah membacakan sebuah syair panjang
yang memuji-muji Nabi saw. tatkala beliau memasuki Mekah, yang setelah itu Nabi
saw. berdoa untuknya. Nabi saw. berdoa agar Allah swt memberi kekuatan kepada
al-Hasan ibn Tsâbit dengan ruh suci sehingga ia dapat mendukung Nabi saw.
dengan syair-syairnya. Demikian pula, Nabi saw. pernah menghadiahi Ka‘b ibn
Zuhayr sebuah jubah karena syair pujiannya. Nabi saw. pernah meminta al-Syarîd
ibn Suwayd al-Tsaqafî untuk membacakan sebuah syair pujian sepanjang seratus
bait yang digubah oleh Umayyah ibn Abî al-Salt. 12 Ibn al-Qayyim melanjutkan,
“‘Â’isyah selalu membacakan syair-syair yang memujinya dan beliau pun merasa
senang dengannya itu.”
Umayyah ibn Abî al-Salt adalah
seorang penyair jahiliah yang meninggal sebelum Islam datang. Ia seorang saleh
yang tidak lagi minum khamar ataupun menyembah berhala. 13 Bagian dari syair
pujian yang mengiringi penguburan Nabi saw. yang dibacakan oleh al-Hasan ibn
Tsâbit, menyatakan:
Aku katakan, dan tak seorang pun
dapat menemukan cela dari ucapanku
Kecuali orang yang telah
kehilangan segala akal sehatnya:
Aku tidak akan pernah berhenti
menyanjung dan memujinya
Karena dengan berbuat begitu,
mungkin aku akan kekal di dalam surga
Bersama Sang Pilihan, yang
dorongannya untuk itu aku harapkan.
Dan untuk mencapai hari itu,
segala ikhtiarku kupertaruhkan.14
Membaca Alquran dan Melagukannya
Ibn al-Qayyim mengatakan dalam
Madârij al-Sâlikîn, Allah swt telah membolehkan Nabi-Nya saw. membaca Alquran
dengan cara dilagukan. Abû Mûsâ al-Asy‘arî ra suatu kali membaca Alquran dengan
suara merdu, sementara Nabi saw mendengarkannya. Setelah ia selesai, Nabi saw.
mengucapkan selamat kepadanya atas bacaannya dengan suara merdu dan berkata:
“Engkau memiliki suara yang indah.” Beliau pun menyatakan tentang Abû Mûsâ
al-Asy‘arî bahwa Allah swt telah memberinya satu dari mizmar (seruling) Dâwud.
Kemudian Abû Mûsâ ra berkata: “Ya Rasulullah saw, kalau saja aku tahu bahwa
engkau mendengarkanku, aku pasti akan membacakannya dengan suara yang jauh
lebih merdu dan lebih indah yang belum pernah engkau dengar sebelumnya.”
Ibn al-Qayyim juga meriwayatkan
bahwa Nabi saw. bersabda, “Hiasilah Alquran dengan suara-suaramu,” dan “Barang
siapa tidak melagukan Alquran bukanlah dari golongan kita.” Ibn al-Qayyim
kemudian mengomentari:
Mendapatkan kesenangan dengan
suara indah adalah diperbolehkan, sebagaimana mendapat kesenangan dengan
pemandangan yang indah, seperti gunung atau alam, atau dari wewangian, atau
makanan lezat, selama sesuai dengan syariah. Apabila mendengarkan suara yang
indah diharamkan, maka mencari kesenangan dengan semua hal-hal lainnya pun
diharamkan juga.
Nabi saw. Membolehkan Bermain Gendang Bila dengan Niat Baik
Ibn‘Abbâd, seorang ahli hadis,
memberikan fatwa berikut dalam Rasâ’il-nya. Ia memulai dengan sebuah hadis,
Seorang gadis datang kepada Nabi
saw. ketika beliau baru pulang dari salah satu peperangan. Gadis itu berkata:
“Ya Rasulullah saw, saya telah bersumpah kepada Allah swt bahwa bila Allah swt
mengirim engkau kembali dalam keadaan selamat, saya akan memainkan gendang ini
di dekatmu.” Nabi saw. kemudian berkata: “Tunaikanlah sumpahmu itu.”15
Ibn‘Abbâd kemudian melanjutkan:
Tidak syak lagi bahwa menabuh
gendang merupakan sejenis hiburan, meskipun demikian Nabi saw. menyuruh gadis
tersebut untuk menunaikan sumpahnya. Beliau melakukannya karena niatnya adalah
untuk menyambut beliau karena telah pulang dengan selamat, dan niatnya itu
suatu niat baik, bukan niat melakukan dosa atau membuang waktu. Karena itu, bila
ada orang yang merayakan saat-saat kelahiran Nabi saw. dengan cara yang baik
dan dengan niat yang baik seperti dengan membaca sirah Nabi dan menyampaikan
puji-pujian kepadanya, maka itu diperbolehkan.
Nabi saw. Menaruh Perhatian Khusus pada Kelahiran Para Nabi
Kesembilan,
Nabi saw. dalam hadisnya memberikan perhatian khusus pada hari dan tempat
kelahiran nabi-nabi terdahulu. Sehubungan dengan keistimewaan Jumat sebagai
hari besar, Nabi saw. mengatakan, “Pada hari tersebut (yaitu Jumat), Allah swt
menciptakan Adam as.” Dengan demikian, hari Jumat diberi penekanan karena Allah
swt menciptakan Adam as pada hari tersebut. Hari tersebut diberi perhatian
khusus karena hari tersebut menyaksikan penciptaan seorang nabi dan bapak semua
umat manusia. Bagaimana halnya dengan hari ketika seorang nabi teragung dan
manusia terbaik diciptakan? Nabi saw. bersabda: “Sungguh Allah swt telah
menciptakanku sebagai Penutup para Nabi (khatam al-nabiyyîn) sementara Adam as
di antara air dan tanah.”16
Mengapa al-Bukhârî Memberi Perhatian Khusus pada Kematian di Hari
Senin
Imam al-Qasthallânî, dalam
komentarnya atas al-Bukhârî, mengatakan:
Dalam bagian “al-Jana’aiz
(Jenazah)”, al- Bukhârî menamai satu bab utuh “Mati pada Hari Senin”. Di
dalamnya ada sebuah hadis dari ‘Â’isyah as yang meriwayatkan pertanyaan dari
ayahnya (Abû Bakr al-Shiddîq ra), “Pada hari apakah Nabi saw. wafat?” Ia
menjawab: “Hari Senin.” Beliau bertanya: “Hari apa sekarang?” Ia menjawab:
“Ayah, sekarang hari Senin.” Abû Bakr ra pun kemudian mengangkat tangannya dan
berkata: “Ya Allah swt aku memohon kepadamu biarkanlah aku meninggal pada hari
Senin agar bersamaan dengan hari wafatnya Nabi saw.”
Imam al-Qasthallânî melanjutkan:
Mengapa Abû Bakr ra memohon agar
kematiannya terjadi pada hari Senin? Karena dengan begitu, kematiannya akan
bersamaan hari dengan hari wafatnya Nabi saw., maksudnya untuk mendapatkan
barakah dari hari tersebut … Apakah ada orang yang akan mencela permohonan Abû
Bakr ra untuk meninggal pada hari tersebut untuk mendapatkan barakah? Pada masa
sekarang, mengapa ada orang-orang yang mencela kegiatan merayakan dan memberi
perhatian khusus pada hari kelahiran Nabi saw. dengan maksud memperoleh
keberkahan?
Nabi saw. Memberi Perhatian pada Tempat Kelahiran Para Nabi
Sebuah hadis yang dianggap sahih
oleh Hafiz al-Haytsamî menyatakan bahwa, pada malam Isra Mikraj, Nabi saw.
disuruh oleh Jibril as untuk salat dua rakaat di Bayt Lahm (Bethlehem). Jibril
as bertanya kepadanya, “Tahukah engkau di manakah engkau melakukan salat?”
Ketika Nabi saw. bertanya kepadanya “Di mana?” Ia memberi tahu beliau, “Engkau
salat di tempat Isa dilahirkan.”17
Ijmak Ulama tentang Peringatan Maulid Nabi saw.
Kesepuluh,
memperingati hari kelahiran Nabi saw. merupakan suatu tindakan yang telah dan
masih disepakati oleh para ulama di dunia Islam. Untuk alasan inilah, hari
tersebut dijadikan sebagai hari libur di semua negara muslim. Allah swt tentu
meridainya karena selaras dengan perkataan Ibn Mas‘ûd, “Apa saja yang dipandang
baik oleh mayoritas muslimin, itu baik di sisi Allah swt; dan apa saja yang
dipandang buruk oleh mayoritas muslimin, itu buruk di sisi Allah swt.”18
Dikutip dari:
Buku Maulid dan Ziarah ke Makam Nabi saw
Oleh Mawlana Syekh Hisyam Kabbani qs
Penerbit: Serambi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar